Daftar Blog Saya

  • Pemuda dan Pemimpin - *"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"* Siapa yang tidak mengenal...
    7 tahun yang lalu

Daftar Blog Saya

Minggu, 05 Oktober 2014

The Secret Life -Part2-


[Part 2]

Dison's View

            Terlihat seorang pria berjalan menghampiri keluargaku, oh lebih tepatnya menghampiri Pattie. Pria itu mengenakan T-Shirt hitam dan topi berwarna hitam juga. Dan wajahnya sedikit tertutupi oleh bayangan dari lampu. Tetapi, masih bisa dilihat bagaimana lekukan-lekukan wajahnya. Dia tampan. Namun sedikit aneh menurutku.

            "Hai Pattie" Pria itu bersuara dengan datar tanpa ekspresi. Dan em, wajahnya memang tampat menurutku. Ah, persetan dengan itu.

            "Oh, hai Justin. Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku harus membelikan sepatu untuk sikecil Suri." Pattie membalas sapaan Justin sembari merangkul Suri yang berada tepat disamping kanannya.

            Oh, ternyata namanya Justin. Nama yang bagus untuk dirinya. Yaa setigaknya nama itu bisa sedikit mengurangi rasa kuno dari tempat ini. Wajahnya yang tampan menawan mirip seperti artis-artis papan atas Hollywood. Oh, apa yang aku fikirkan? Tidak! Seharusnya aku tidak boleh berfikir seperti itu. Bagaimana nanti nasibku sebagai primadona sekolah? Aku harus menjaga imageku di depan dirinya. Jangan sampai aku terpesona kemudian terpikat olehnya. Itu tidak boleh terjadi, tidak akan terjadi.

Author's View

            "Ah ya! Dison, Bisma, dan Suri kenalkan dia Justin Palmer. Dia adalah orang yang telah membantu mom membereskan rumah ini. Ini rumah peninggalan ayahnya, Mr. Palmer." Ujar Pattie menjelaskan kemudian menatap ketiga anaknya.

            "Oh, hai men.." Bisma menyapa Justin dengan menepuk bahu sebelah kiri Justin.

            "Hai kaka ganteng" Suri menyapa Justin dengan pandangan yang tidak pernah lebas dari wajah Justin. Huh- Suri memang. Dison menggedikkan bahu merasa jijik pada Suri.

            "Oh ehm, Hello Bisma. Hello adik kecil" Justin membalas sapaan Bisma dan Suri. Justin mendekatkan dirinya kearah Suri kemudian Justin memberikan senyuman terbaiknya kepada Suri. Dan iru sontak membuat hati Suri begitu gembira. Terlihat dari wajahnya yang memerah dengan senyuman yang dipasang semanis mungkin.

            "Woa, sepertinya Suri tergila-gila kepadamu Justin" Bisma terkekeh geli memperhatikan gerak-gerik Suri dengan wajah yang begitu menggemaskan.

            "Ah, kau terlalu berlebihan Suri. Jaga sikapmu itu. Kau masih anak-anak tetapi tingkahmu sudah sangat menjijikan." Dison menatap Suri jengah. Ia sangat benci melihat tingkah sang adik yang selalu berlebihan pada apapun. Ah-- Memang sudah terbiasa dengan tingkah Suri yang selalu berlebihan. Tetapi, apakah dia tidak bisa untuk tidak berlebihan sekali saja? Kurasa tidak, fikir Dison.

            "Bilang saja kau iri denganku karna tidak disapa oleh Justin." Suri membalasnya dengan nada yang sangat ketus dan menatap Dison dengan tatapan yang mengerikan.

            "Tidak, untuk apa aku iri dengan bocah ingusan sepertimu!" Dison membalas tatapan Suri dengan tatapan malas.

            "Sudah jangan bertengkar! Lebih baik sekarang kita masuk kedalam." Pattie melerai kedua anaknya yang memang selalu tidak pernah akur atau bahkan tidak pernah bisa akur lebih tepatnya.

            Dison melangkahkan kakinya kedalam rumah baru yang besar ini, mengedarkan pandangan keseluruh ruangan didalamnya bahkan sudut-sudut rumahnya pula. Dison berdecak, "Rumah macam apa ini? Seperti barang-barang zaman dahulu. Oh ayolah, kitakan sudah berada di masa modern, masih saja menggunakan barang-barang seperti ini?!" Dison tetap melangkahkan kakinya mengelilingi setiap ruangan didalam rumah barunya. Dison melebarkan matanya ketika ia menemukan sebuah kamar. Kamar itu berbada jauh dari kamarnya dirumahnya dahulu. Kamar yang kuno, bahkan tidak ada sedikit sentuhan model modern sama sekali. Sebuah lemari besar yang masih memakai bahan kayu dan disetiap pahatan-0pahatan kayunya terlihat berharga dan bernilai jual tinggi.

            "Kau sudah menemukan kamarmu. Mulai hari ini kau tidur disini. Kamar ini menjadi milikmu, ini kunci kamarnya." Ujar Pattie yang sudah berada didepan pintu kamar. Dison melebarkan kelopak matanya, ia tidak percaya bahwa akan tinggal dikamar seperti ini? Yaa walaupun sepertinya terlihat bagus dan mahal tapi tetap saja, mungkin ia tidak akan nyaman dengan tempat ini.

            "Apa tidak ada kamar lain saja untukku? Mengapa harus kamar seperti ini, ku kita hanya bentuk rumahnya saja yang kuno ternyata dengan seluruh isinya juga." Dison mengeluh panjang nafasnya. Dison sanbgat tidak suka dengan ini semua. Dison memutar matanya jengah, ia tau ini pasti tidak akan ditanggapi oleh Pattie.

            "Dison! Kau tidak menghargai sekali, Mom membeli rumah ini dengan harga mahal. Kau beruntung bisa tinggal dirumah ini." Pattie meletakkan kedua tangannya dipinggul. Pattie menaikkan sedikit nada suaranya dari cara ia berbicara selayaknya. Pattie menatap Dison dengan tatapan geram.

            "Kau terlalu berlebihan! Untuk apa kau membeli rumah kuno ini dengan harga mahal sedangkan kau bisa memakai dolarmu untuk membeli rumah bergedung atau kita bisa tinggal diapartemen." Dison menyibir, mengecap Pattie dengan beberapa cibiran.

            "Karena aku suka dengan rumah ini. Jauh dari hingar-bingar keramaian kota. Dan Mom sangat suka itu. Berhentilah mengeluh." Pattie menatap Dison, Pattie seperti ingin menerkam Dison dengan kata-kata yang menyeramkan detik ini. Ia ingin menyumpal bibir Dison supaya ia tidak berbicara yang aneh dan membuat emosinya memuncak.

            "Ah, sudahlah aku malas beradu mulut denganmu kali ini. Aku ingin beristirahat terlebih dahulu, badanku sudah remuk seperti serpihan kaca terinjak akibat perjalan kerumah kuno ini." Dison memutarkan bola matanya malas. Ia membalikan badannya berjalan kearah tempat tidur yang besar.

            " Okey, beristirahatlah dan bersihkan dirimu. Aku ada didapur jika kau perlu sesuatu." Pattie berjalan keluar kamar Dison kemudian menutup piuntu kamar perlahan dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam hari ini.

***

            "Mom" Dison berjalan mendekati Pattie sambil mengambil jeruk diatas meja makan serta memakannya. "Sedang apa mom?" Tanya Dison dengan sebuah jeruk yang berada didalam mulutnya.

            "Membuatkan makan malam untukmu dan adikmu serta Justin" Jawab Pattie sembari mengiris beberapa sayuran tanpa menatap Dison. Keheningan terjadi selama beberapa menit kedepan diantara keduanya.

            Dison berjalan menuju bangku di dapur dan duduk disana. "Mom, sebenarnya aku tidak terlalu suka padanya." suara Dison memecah kesunyian.

            "Maksudmu siapa? Justin?" jawab Pattie tanpa berpaling dari sayuran-sayurannya sedikitpun.

            "Ya. Kupikir dia aneh, sedikit misterius. Kau tidak curiga padanya?"

            "Dia baik. Dia yang membantuku menata rumah ini sebelum kita tinggal. Dulu rumah ini sangat tidak terawat dan sangat berantakan. Dia yang memilih interior rumah ini. Mom hanya mengikuti." Pattie melanjutkan mengiris-iris sayuran-sayuran hijau lainnya.

            "Pantas saja rumah ini terlihat kuno. Tapi lumayan jugalah. Memang rumah seperti ini tidak bisa dipaksakan untuk menjadi modern." Dison berdecak.

            "Kau suka? Aku tidak percaya."

            "Setidaknya aku harus menghargai usaha orang lain. Mom yang ajarkan aku kan?"

            "Terserah yang kau mau." Pattie memasukkan beberapa sayuran hijau yang tadi sudah ia iris menjadi serpihan kecil. Memasukkan beberapa sayuran itu kedalam air panas yang sudah direbus terlebih dahulu.



            "Arrghhhh..." tiba-tiba ada suara menjerit dari lantai atas rumahnya. Kontan saja membuat Dison dan Pattie yang sedang berada didapur saling menatap satu sama lain.

            "Aku pikir itu suara Suri." Dison berbicara dengan aksen nada sedikit khawatir. " Mom, kita harus menghampirinya."

            Dison dan Pattie segera berlari meninggalkan sayuran yang belum selesai dimasak dengan kompor yang masih menyala. Mereka segera menaiki tangga untuk beranjak pergi keasal suara. "Suri, kau tidak apa-apa?" Tanya Pattie menatap cemas kearah Suri yang sekarang sedang berdiri diatas meja belajarnya.

            "Mom, aku melihat sesuatu yang sekilas muncul dan pergi kembali disini. Tapi, aku tidak tau itu apa. Aku takut Mom." Suri berbicara sembari menahan dirinya untuk menangis.

            "Sudahlah semuanya akan baik-baik saja itu hanya khayalanmu." Pattie melembutkan suaranya agar Suri segera tenang. "Tidak ada yang perlu kau takuti ditempat ini" Pattie menghampiri Suri serta menggendongnya turun dari atas meja belajar dan membawa suri keatas ranjang miliknya. "Sekarang tidurlah. Mom akan antarkan makan malam untukmu nanti." Pattie mengelus lembut puncak kepala Suri.

            "Aku ingin kebawah. Ingin makan malam bersamamu, kakak dan juga Justin. Aku belum mengantuk, Mom"

            "Baiklah Suri kau bisa keruang makan sekarang. Aku sudah menyiapkan makan malam." Pattie beranjak dan menggenggam pergelangan tangan Suri serta menuntunnya keruang makan. Sementara Dison hanya mengikuti Pattie dari belakang.

            Pattie mencium aroma gosong dari arah dapurnya. Pattie menyadari bahwa kompornya belum dimatikan sejak tadi Suri berteriak. "Oh tidak." Pattie berlari menghampiri dapur dan mematikan kompor, melihat makanan yang sudah berubah menjadi berwarna hitam. "Dison, makan malam kita hangus. Kau mau menolongku untuk mencari makanan diluar?"

            "Oh ya Mom, tentu. Aku juga tidak mau mengambil resiko untuk tidak makan malam. Tapi bagaimana aku bisa mencari makan malam diluar? Kaukan tau disini jauh dari keramaian." Ujar Dison.

            "Ajak saja Justin, dia pasti mau untuk menemanimu."

***

            "Arrgghh... Apa itu?" ujar Bisma yang sekarang sedang mencari-cari buku diperpustakaan terkejut saat mendengar suara benda terjatuh dari ujung sudut ruang perpustakaan. Perpustakaan itu sangatlah besar ditemani dengan lemari-lemari buku yang menjulang tinggi seperti perpustakaan di istana cerita dongeng Beauty And The Beast. Bisma mendekati asal suara dan seperti melihat sebuah bayangan yang sangat cepat lewat dihadapannya, Bisma lantas menengok ke kiri dan kanan.

            Bisma menemukan sebuah pintu untuk anak seusia Suri, namun masih bisa dilewati oleh orang dewasa dengan merangkak. Bisma mencoba masuk kedalam pintu tersebut tetapi Bisma melihat ada satu gembok besar menghalanginya. Bisma menyerah karna ia tidak akan bisa masuk kedalam dan Bisma tidak akan mungkin mencarinya sekarang.

            "Aku mungkin bisa bertanya kepada Justin" desis Bisma. Bisma berjalan keluar perpustakaan yang luas itu. Ia berlari kecil menemui Pattie yang sekarang berada diruang tamu dan sedang menonton acara televisi. "Mom, apakah kau melihat Justin?" tanya Bisma dengan nada mendesak, nada yang tidak sabar untuk dijawab.

            "Mom tidak tau, tetapi mungkin dia sedang bersama Dison." Pattie terkejut saat melihat Bisma yang tidak henti-hentinya menarik nafas karna terlalu lelah berlari. Bagaimana tidak, perpustakaan itu berada dilantai teratas rumah ini, tepatnya dilantai tiga. "Mengapa nafasmu terengah-engah? Kau baik-baik saja? Mengapa kau mencari Justin? Ada perlu apa?" Tanya Pattie dengan mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Bisma.

            "Tidak apa mom, aku baik saja. Aku hanya perlu menanyakan sesuatu pada Justin, mungkin dia tau. Kau bilang dia bersam Dison? Bagaimana mungkin, setauku Dison tidak suka pada Justin."

            "Mom menyuruhnya untuk membeli makanan cepat saji untuk makan malam hari ini. Karena makan malam kita hangus akibat Suri."

            "Memangnya ada apa dengan Suri? Tapi sudahlah mom, aku harus bertemu dengan Justin sebelum pria itu pergi." Bisma berjalan mengelilingi sekitar rumah. Berharap menemukan Justin.

***

            Dison mencari Justin. Mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah. Dison terkejut saat angin dingin menghantam tubuhnya. Dison melihat jendela yang terbuka dan menghampiri jendela tersebut lantas menutup erat jendela itu. Namun, belum sempat ia menarik dinding jendela ia melihat bayangan lelaki jangkung sedang berada di depan rumahnya, Dison yakin bahwa itu Justin.

            Dison kembali menutup jendela dan beralih menuju Justin yang terlihat bertelanjang dada, dengan sedikit noda di dada dan perutnya yang bidang. "Justin!" Dison memanggil Justin sembari mengangkat tangan sebelah kanannya serta berlari menuju kearah Justin.

            Justin menoleh kebelakang dan menemukan Dison sedang berada dibelakang dirinya. Lantas Justin menoleh lagi kearah mobilnya yang tampak berantakan. "hem.." Justin menanggapi Dison dengan sebuah dehaman saja.

            "Apa yang sedang kau lakukan? Dan apa yang terjadi pada mobilmu?" Tanya Dison bingung saat melihat mobil sport milik Justin hancur berantakan. "Bukan urusanmu." Balas Justin cepat dan dingin.

            "Jelas urusanku! Mom menyuruhku membeli makanan cepat saji. Dan kau harus mengantarkanku."

            Justin mengambil T-shirt miliknya yang digantung diantara kayu-kayu tempat penyimpanan barang-barang perkakas miliknya. Justin mengambil helm kemudian memakaikan helm dikepalanya lantas segera naik keatas jok motor sport merahnya. "Naiklah." Suara Justin terdengar seperti memerintah menyuruh Dison untuk segera naik ke motornya.

            Dison naik keatas jok sepeda motor sport milik Justin, namun setelah ia sudah benar-benar duduk Justin langsung menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Dison terhentak kedepan dan dengan reflek memeluk pinggang Justin. Justin hanya menyeringai kecil saat mengetahui dirinya dipeluk Dison. "Kau ingin kita mati?!" Bentak Dison dengan geram lantas langsung memperbaiki tempat duduknya. Menarik kembali lengan yang melingkar dipinggang Justin.

            "Diamlah." Ujar Justin seperti biasa dengan nada yang sangat dingin tanpa ekspresi.

            Dison beru menyadari bahwa orang yang didepannya ini selain aneh juga sangatlah menyebalkan. Tidak bisa diajak untuk mengobrol apalagi diajak untuk bergurau seperti Bisma. Justin sangatlah angkuh dan dingin sedingin es yang membeku dikutub utara.


Justinnn, yaampuunn<3

Ariana Grande as Medison Stewart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar