Daftar Blog Saya

  • Pemuda dan Pemimpin - *"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"* Siapa yang tidak mengenal...
    7 tahun yang lalu

Daftar Blog Saya

Senin, 11 November 2013

First Valentine With Him


       Hey semuaaaa, ketemu lagi sama sayaaa yang imut-imut dan lucuuuu *huek* Sayaaa bawa ceritaaa nihhh, Monggooo dibacaaaaa:D Walaupun gaje, dan gak pada waktu yang tepaaat:D

First Valentine With Him

#1 Februari 2013

“Minggirrr … !!!” Teriak seorang laki-laki yang berlari sepanmjuang koridor sekolah. Nampak seluruh tenaganya ia keluarkan. Saking buru-burunya, laki-laki kelas X-B itu tidak sedikit pun mengerem. Apesnya, ia menabrak. Dan bukan barang yang ia hantam tapi seorang perempuan. Lebih apesnya, itu adalah kaka kelasnya, tepatnya kelas XII-A. Mau tidak mau laki-laki itu menghentikan tekadnya.

“Aduhh .. !!” rintih perempuan berambut panjuang yang terjatuh di lantai.

“Sorry-sorry ka” kata si junior seraya tersenyum behel.


 “Sakit tau! Kenapa lo lari-lari sih?” dengus si kaka kelas.

“Sorry ka, lagi buru-buru! Ada ulangan Fisika” jelas si junior seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
 
“Makanya bangun pagi dong !!” sambung perempuan itu seraya berdiri.

“Kelas berapa lo? Nama lo siapa?” tanya perempuan itu mengintrogasi adik kelas yang baru saja menghantamnya

“Kelas X-B kak .. nama sayaDICKY M PRASETYA , panggil sajaDicky . Saya duduk di paling depan baris ke dua dari jendela. Saya tinggal di … “

“Sssstttt … gue Shasie! Cukup! Udah lo balik ke kelas, nanti malah telat!” potong perempuan yang mengaku bernama Shasie itu.

“Makasih ka … aduhh, telat gue” Dicky melanjutkan langkah seribunya sampai ia berdiri di depan kelas.

**

            Sejak kejadian tadi pagi, Dicky merasa tak tenang. Ia selalu terbayang senyum Shasie di benaknya. Tak salah juka Dicky begitu mengaguminya. Valentine tahun lalu, Shasie berhasil menyandang predikat “Queen of queen”. Berkat kecantikan dan kepintarannya. Sedang asyik melamun, Dickyu tersentak karena di kagetkan oleh sahabatnya.

“Ngapain lo senyum-senyum? Lagi mikir jorok yaaa …” kata Rangga sembari menepuk pundak Dicky.

“Iihhh …” gerutu Dicky kaget

“Lo ngagetin aja! Siapa yang lagi mikir jorok” sambung Dicky.

“Habisnyaa .. lo kenapah ngelamun gitu?” kata Rangga seraya duduk di samping laki-laki berbehel itu.

“Lo tau ka Shasie kan?” Dicky memulai curhatannya.

“Kak Shasie yang cantik, bodynya bagus, pinter, baik, manis .. itu?” Rangga yang ikut antusias dengan cerita Dicky.

“Nih yaa .. tadi gue tabrakan sama ka Shasie! Nah, kita sentuhan tuh .. !!” Dicky yang memamerkan pengalamannya.

“Ahh .. mau gue … kayaknya enak tuh. Mulus gak?” tanya Rangga.

“Muuullluussss !! Parahnya lagi, dia ngajak kenalan … !” kata Dicky dengan wajah sangat ceria. Behelnya ia pamerkan.

“Wahhhh .. terus lo jawab?” tanya Rangga lagi.

“Iya lah Rang! Rugi gue gak jawab!” kata Dicky.

“Trus .. trus …?” tanya Rangga yang mulai merasa asyik dengan cerita Dicky.

“Terus .. terus !” dengus Dicky.

“Iya udah kayak gitu aja .. Step by step dong Rang.. !” sambung Dicky

            Lalu, sahabat mereka yang sangat tomboy pun datang
.
“Eh guys !!” sapa perempuan bertopi sembari membawa bola basket.

“Rin.. lo dari mana aja? Tadi lo gak ikut ulangaan .. “ gerutu Dicky pada sahabat perempuannya yang bernama Maurine itu.

“Itu emang tujuan gue Dick!” jawab Maurine cengengesan.

“Ngomong-ngomong,, lo dari mana aja?” tanya Rangga. Maurine memasang wajah jahilnya.

“Nge-track” jawab Maurine.

“Hah?! Balapan lagi?” Dicky dan Rangga serentak mendengar pengakuan Maurine yang berdiri di hadapan mereka. Gadis satu ini, selain suka bermain basket, otomotif, bela diri, ia juga suka balapan liar dengan siswa SMA lain.

“Terus? Kenapa? Lo gak suka!!” gerutu Maurine seraya duduk di sebelah Rangga.

“Lo tuh cewek,! Jadi cewek yang anggun dong ..” Rangga menasihatinya seolah bapak menasihati anaknya.

“Iyaa, liat tuk ka Shasie! Jadiin dia panutan sama lo!” Dicky menimpali kata-kata Rangga.

“Iyuuhh.. gue gak suka kayak dia! Terlalu lembek, centil!” ketus Maurine dangan wajah meledek.

“Eh! Kak Shasie itu teladan yang baik tau Rin!” sambung Dicky lagi.

“Kenapah sih? Shasie lagi! Shasie lagi! Dia ya dia! Gue ya gue! Gue tetep cewek yang gak suka di banding-bandingin sama orang lain Dick! Apalagi soal FISIK!” Maurine membentak tepat di depan wajah Dicky. Dicky hanya memandang Maurine dengan sedikit takut. Sementara Maurine membanting bola dan beranjak pergi.
 
“Baru kali ini gue liat Maurine marah. Ngambek kayak cewek aja ..” ledek Rangga.

“Emang dia cewek kali Rang!” Ucap Dicky sembari menoyor kepala Rangga. Sementara Rangga  hanya cengengesan gajelas :D *peace rangganizer :) 

**

            Istirahat ke-2, dimanfaatkan oleh Dicky , Rangga dan Marine untuk menyusuri koridor sekolah. Tapi, langkah mereka terhenti.

“Ada apaan rame-rame?” tanya Maurine yang sudah tidak marah pada Dicky, sahabatnya.

“Coba liat!” saran Dicky. Mereka pun menuju kerumunan, bak lalat hijau yang mengerumuni sampah. Ternyata siswa-siswi lain sedang membaca selebaran di madding.

Hai Gadis .. Hai Lelaki ..
Mari datang ke acara “Velentine Day Party”
Yang akan di selenggarakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Februari 2013
Waktu : 19.00 s/d Selesai
Tempat : belakang sekolah
                Bawa pasanganmu, dan jadilah ‘Queen of Queen’ dan ‘King of King’ tahun ini !!
NB: pakailah topeng untuk menutupi keKECEanmu ..
                                -OSIS-


“Baca deh!” ucap seseorang yang berada di situ.

“Gak menarik!” dengus Maurine.

“Ahh .. gue mau ajak ka Shasie ..” seru Dicky seraya berkhayal.

“Ah .. elu! Itu gue!” timpal Rangga.

“Emang mau? Ngimpi lo Dick! Rang!” pungkas Maurine. Dicky dan Rangga pun memandang tajam wajah Maurine.

“Kenapa? Kok pada liatin gue gitu bangeet ..” tanya Maurine gugup.

“Lo syirik sama kita, kan?” Celetuk Dicky.

“Iyaa.. Karena ga ada yang mau ajak lo?” sambung Rangga.

“enak ajaa! Kalian pasti yang bakal dateng jadi pasangan! Dan gue .. dapet yang lebih keren dari lo berdua!” Bentak Maurine.

“Coba aja .. Buktiin!” tantang Dicky. Maurine pun pergi dari kerumunan.

**

#2 Februari 2013

“Lo udah dapet cewek, Dick?” tanya Rangga yang sedang mengemut permen.

“Belum Rang! Gue belum siap bilang ke ka Shasie” jawab Dicky pesimis. Tangan Rangga mendarat di pundak Dicky.

“Gua nyerah soal ka Shasie, dia buat lo aja. Gue takut malah gak dapet pasangan, kalo gue paksain ngajak kak Shasie ehh gue di tolak” Rangga mengungkapkan isi hatinya.

“Trus, lo sama siapa? MAURINE?” ledek Dicky.

“Enak aja, gue mending mojok di kamar mandi selama Prom Nite dari pada jadi pasangan Maurine! Gue yakin, Maurine juga bakal nge-track! Ga akan dia datang!” kata Rangga yakin. Dicky menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

“Gue belum liat tuh bocah dari tadi!” kata Rangga.

“Lo kalau mau cari Maurine, tuh di gudang! Kali aja dia nyangkut sama sarang laba-laba” Dicky menimpal goyonannya. 

Sedang di perbincang kan, yang di maksud pun datang. Tapi, ia tak sendiri ada lelaki di sampingnya. Mata Dicky dan Rangga terbelalak, ternyata ketua OSIS mereka di gandeng oleh Maurine.

“Eh Dicky! Rangga, nih kak Morgan! Lebih tinggi dari lo” bisik Maurine.

“Lo .. lo melet dia?” tanya Dicky tidak percaya.

“Enak aja! Dia yang ngajak gue” jawab Maurine yang masih berbicara dengan berbisik.

“Lo pasti ngancem bunuh dia ya?” tanya Rangga lagi.

“Iihhh! Ga sportif banget! Asal jeplak aja lo berdua.. udah ah, gue mau pergi dulu sama couple  gue!” Dea pun menyeret Morgan beranjak dari tempat itu
.
“Duluan yah!” Morgan berpamitan pada Dicky dan Rangga yang masih kikuk.

“Gue makin gak terima” teriak Dicky.

“Tenang Dick! Gue sih banyak kenalan di facebook, banyak kaka kelas juga. Lo tau kan foto di facebook gue keren-keren” kata Rangga optimis.

“Curang lo! Jadi, lo relain ka Shasie nih?” tanya Dicky.

“Yaa.. buat lo deh” jawab Rangga.

**
 
#4 Februari 2013

            Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya Dicky mengunjungi taman belakang sekolah terlebih dahulu. Lagi-lagi ia dihadapkan sebuah peristiwa. Nampak Shasie yang menangis di balik pohon. Dengan ragu, Dicky melangkah mendekat. Shasie yang menyadari kehadiran Dicky pun mencoba menyembunyikan air matanya. Ia menyeka dengan kedua tangannya. Tapi, Dicky cukup gentle untuk menawarkan tissue.

“Kak, pake tissue! Nanti kotor tangannya” kata Dicky yang datang bak pangeran tampan yang turun dari kuda.

“Thank’s” jawab Shasie seraya mengambil 1 lembar tissue di tangan Dicky.

“Kenapa nangis? Harusnya kakak senyum, karna kaka punya kesempurnaan yang bisa menyirnakan air mata” Dicky mulai keseriusannya. Si adik kelas ini turut duduk di sebelah Shasie. Kira-kira 30cm jarak pundak mereka. Shasie memandangi wajah Dicky yang tersenyum itu. Mata Dicky berbicara dan merasuk jauh kedalam hati Shasie.

“Kak.. kalau boleh tau, ada apa?” Dicky mulai menjuruskan pertanyaan.

“Gue gak bisa kasih tau” ucap Shasie memalingkan wajah manisnya.

“Kalau ini emang rahasia, dan rahasia itu bisaq bikin kaka berhenti nangis, aku hargain kok” kata-kata Dicky saat itu memang tidak pernah di program sebelumnya. Dicky sendiri baru sadar ia bisa seromantis itu.

“Rafael… aku di tamparRafael!” jawab Shasie lirih. Dicky  justru menyungging senyum pahit.

“Kak .. aku bingung deh, kok Rafael tega sih nyakitin cewek secantik kakak? Padahal, kakak harusnya di jaga bukan di tamparin” Dicky mengeluarkan kata-kata bijaknya. Shasie bisa bernafas lega, seolah semua bebannya hilang tergerus air mata.

“Makasih udah bisa bikin gue senyum. Ngomong-ngomong lo ngapain di sini?” Shasie mulai berbasa-basi.

“Main aja .. iseng sih, eh ada bidadari yang lagi kehilangan sayapnya. Jadi, aku kesini” jawab Dicky disertai senyum behelnya yang hangat.

#5 Februari 2013

“Gue berhasil Rang” kata Dicky disertai tawa renyah dari bibirnya.

“Berhasil apa? Oohh .. iya gue tau semalem MU menang kan? Lo taruhan yah?” Rangga menghujan Dicky pertanyaan. Dicky pun menepuk pundak Rangga cukup keras dan cukup sakit.

“Adaaw !!” rintih Rangga.

“Gue udah PDKT-an dong sama kak Shasie” kata Dicky pamer.

“Gue juga, ada 6 orang cewek cantik yang ajak gue ke puncak Valentine Prom Nite. Jadi, gue tinggal milih ajaa” kata Rangga berbangga diri.

“Gue juga yakin kak Shasie mau sama gue” kata Dicky yakin disertai wajah yang serius. Tak lama kemudian, Maurine datang dengan wajah kusut seperti baju kotor yang belum di setrika.

“Weess .. kenapah mbak bro?” tanya Rangga. Sementara Dicky sibuk dengan buku fisikanya.

“Dick! Nih buat lo”  kata Maurine dengan ekspresi kesal. Dicky menerima  secarik kertas berwarna biru muda itu.

“Ngapain lo nyuratin Dicky? Tinggal ngomong langsung” sahut Rangga.

“Cantik banget suratnya” ledek Dicky di sambut tawa renyah dari Rangga.

“Dari siapa tuh? Kakak kelas yang mulus itu” Maurine menyampaikan amanat dengan wajah BT, matanya tidak berani menatap wajah Dicky. 

“Coba lo tau Dick! Gue jealous liat lo deket sama cewek itu!” batin Maurine. Perlahan-lahan air mata Maurine tumpah juga. Padahal Dicky masih membolak-balik kertas itu karena sudah merasa sangat gugup ketika menerimanya.

“Lho .. lo nangis?” tanya Dicky yang sadar sahabatnya itu menumpahkan bendungan air matanya.

“Kenapa Rin? “ tanya Dicky mempertegas pertanyaannya.

“Gue ..  Nilai Fisika gue jelek! Gue ke Bu Rahma dulu!” jwab Maurine sekenanya, ia pun segera pergi dari hadapan 2 sahabatnya.

“Coba di buka,Dick!” ujar Azzam. Dicky pun memulai membuka kertas yang sangat bermakna baginya itu. Perlahan matanya turun pada huruf demi huruf, dan merangkainya menjadi 1 kata. Begitu seterusnya ..

To :  Dicky yang berhati Salju.
Terima kasih atas bantuan kamu, aku bisa lebih tegas menghadapi Rafael. Walaupun sakit, aku tau wanita menangis bukan karena cengeng tapi, karna dia mempunyai perasaan ..
Maka, sebagai ucapan terima kasih yang sangat tulus dari dalam sanubariku. Aku menerima ajakanmu menjadi pasanganmu malam nanti.
-salam manis, @ShasieMeylisha-

            Hati Dicky serasa terbang ke angkasa ruang. Ia tidak bisa menolak untuk tersenyum bahagia.

“Ciieee … yang diterima ajakannya” guda Rangga.

“Tapi, emang kak Shasie udah putus dari Rafael?” tanya Azzam

“Ga tau! Yang penting gue udah bisa dapetin kak Shasie yang kece badai itu. Yeaay!!” sontak Dicky berloncat-loncat ria di dalam kelas. Sementara itu, Maurine? Yaa ..  Maurine tenggelam dalam tangis yang begitu menyakitkan. Ia berdiri menghadap danau di taman belakang sekolah. Dalam isakannya, yang ia pikirkan hanyalah Dicky, Dicky dan Dicky. Laki-laki berbehel penghias hatinya sejak bangku SMP itu, hari ini telah membuatnya menangis. Bukan karena kalah tanding basket, kalah balapan motor atau kalah taruhan pertandingan MU vs Liverpool. Tapi, Maurine telah kalah meraih hati lembut Dicky.

“gue gak pernah minta lo cinta sama gue, Dick! Yang gue mau, lo hargain perasaan gue!” kata Maurine sesegukan. Sedang menangis diiringi kekecewaan, Maurine di kagetkan dengan seseorang, yang ternyataa ..

“Shasie?” maurine tersentak.

“Sejak kapan lo berdiri di situ?” tanya Maurine lagi.

“Gak lama kok, sejak lo bilang lo sayang sama Dicky” jawab Shasie diiringi senyum pahit.

“Maaf ya! Gue gak tau kalo lo suka Dicky” lanjut Shasie.

“Gak papa, Dicky pun milih lo. Sekalipun lo punya Rafael” dengus Maurine. Shasie mendekati Maurine, mata mereka bertemu. Tak lama, Maurine membuang wajahnya.

“Dengan lo terima Dicky, lo udah bikin Dicky bahagia dan itu bikin gue seneng” kata Maurine.

“Pantesan, lo cemen ya?  Soal perasaan, lo gak boleh ngalah kayak gitu! Semua gak bisa di kompromiin sekarang juga, kita buktiin ke Dicky siapa yang menurut dia terbaik!” ungkap Shasie, membuat Maurine terlamun
.
“Bukannya lo udah di ajak Morgan ya? Ke Prom Nite? Tanya Shasie yang makin masuk ke dalam perasaan Maurine.

“Morgan? Dia itu sebenernya sodara gue. Gue udah bilang ke dia, dia harus jadi pasangan gue. Karna gue tau, pasti gak ada yang ajak gue. Gue jelek,gue tomboy, gue ..” ucap Maurine terhenti karena di potong oleh Shasie.

“Lo cantik, lo cewek sempurna! Inget kesempurnaan itu bukan Cuma dari fisik Rin! Lo punya semuanya. Sedangkan gue? Nggak!” kata Shasie. Maurine mengerutkan dahi.

“Maksud lo apa?” tanya Maurine.

“Gak kok.. udah ah, gue ke kelas dulu yah!” Shasie pun melangkah pergi.

**

            Dicky sudah siap di depan gerbang. Ia menunggu kehadiran Shasie untuk diantarnya pulang. tapi, tiba-tiba sebuah motor satria bertengger di depannya dengan Rafael dan Shasie di atas motor merah itu. Shasie pun turun dan menarik lengan Dicky untuk sedikit menjauh.

“Maafin aku ya! Aku diancam sama Rafael  kalo aku gak ikut dia” kata Shasie seraya memandang mata Dicky yag terlihat kecewa.

“Gak papa kok kak. Woles aja” jawab dicky dengan senyum terpaksa.

“Aku tau, kamu pemaaf” sambung Shasie. Dicky pun tersenyum behel.

“SHASIE !! Buruan !” bentak Rafael dari atas motornya. Rafael juga menan cap gas dan klakson hingga memekakkan telinga.

“Iya!” jawab Shasie setengah berteriak.

“Maaf yah Dick!” kata Shasie lagi sebelum benar-benar pergi bersama Rafael.

“Dasaaarr !! cowok urakkan!” teriak Dicky begitu Rafael dan Shasie sudah 5m dari tempatnya berdiri. Terpaksa Dicky pulang dengan biasanya, sendiri. Sedang mengambil mobilnya, Dicky bertemu dengan Maurine dan Morgan.

“Riin ..” sapa Dicky.

“Eh Dick, lo gak pulang?” tanya Maurine.

“Gue .. baru mau pulang” jawab Dicky diiringi dengan senyumnya yang manis.

“Gue duluan yaa ..” kata Maurine pamit.

“Rin, lo gabung bareng gue aja? Dari pada lo jalan” kata Dicky seraya mencegah Maurine pergi.

“Morgan?” tanya Maurine.

“Ajak aja” jawab dicky yang barusa dar sedari tadi ada Morgan di samping Maurine.

“Tapi guys, gue mau ketempat Ilham. Kayaknya lo aja deh yang ikut Dicky, Rin” kata Morgan.

“Tapi, gue bisa kok anter lo dulu” kata Dicky yang sedikit tidak enak pada Morgan.

“Woles aja, gue sendiri juga bisa kok” Morgan pun melangkah pergi.

**

#7 Februari 2013

            Dicky dan teman-teman sekolahnya tidak sekolah hari ini. Oleh sebab guru-guru mereka mengadakan rapat. Dicky memilih menonton serial tv kesukaannya.

“Hahahahaaa ..” Dicky melontarkan tawa renyah dari bibirnya. Nampak behel di giginya terpampang kemana-mana. Sedang asyik tertawa disertai mengunyah snack dari toples di hadapannya, ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu.

“Tok .. tok.. tok .. “ Dicky yang masih tertawa kecil pun menghampiri pintu utama dan meraih daun pintu. Ternyataa .. Shasie Meyli Shandara yang berdiri di balik pintu.  Dicky terpelongo, ia amat sangat tidak menyangka. Kira-kira 10 detik Dicky tidak merubah ekspresinya, lidahnya keluh, dan otaknya beku. Shasie pun berdehem untuk membuyarkan pikiran Dicky.

“Ekhem ..” Dehem Shasie.

“Ehh .. oiyaa, masuk kak” kata Dicky yang sedikit saliting. Shasie pun melangkah melewati Dicky dan mendaratkan tubuhnya di sofa.

“Ada apa kak? Tumben kesini? Kok tau rumah gue? Sendirian?” Dicky menghujani Shasie pertanyaan.

“Kamu lucu yaa.. seakan-akan aku gak akan hidup lama lagi. Jadi, kamu nanya langsung aku takut gak bisa jawab semua” kata Shasie disertai senyum manisnya yang mengembang. Dicky pun tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanga yang tidak gatal.

“Iya deh, aku jawab. Cuma mau main aja, bosen di rumah, tau rumah kamu tari temen sekelas kamu, trus aku sendirian” jawab Shasie tanpa menghilangkan senyumannya.

“Hehehee ..” Dicky tertawa karena tidak tau harus berbuat apa. Shasie  memperhatikan wajah Dicky ini membuat hati Dicky bergetar. Wajah mereka berhadapan, Dicky seakan masuk dalam tajamnya tatapan Shasie. Dengan perlahan, Shasie memegang jidat Dicky.

“Kotor” ucap Shasie menjelaskan. Dicky melempar pandangan kearah tv lagi. Serial lucu itu, terasa hambar bagi Dicky di saat-saat seperti itu.

**
 
#13 februari 2013

            Sejak kejadian itu, Dicky tak pernah lagi melihat Shasie. Ditambah, Maurine juga sedikit menjauh dari Dicky. Keseharian Dicky hanyalah bersama Rangga, sahabatnya.

“Besok gue jadi deg-degan Dick” ungkap Rangga. Sementara Dicky hanya tersenyum pahit.

“Lo mau sama siapa? Kak Shasie kan?” tanya Rangga lagi.

“Gatau Rang” jawab Dicky.

“Kok gak tau?” tanya Rangga kepo.

“Gue gak ketemu dia lagi” jawab Dicky.

“Emang belum lo ajak?” tanya Rangga yang sangat ingin tau itu.

“Udah sih .. Tapi, kita belum janjian” jawab Dicky.

“Ohh ..” akhirnya Rangga pun puas dengan jawaban Dicky. Maurine pun datang.

“Rin! Lo mau sama siapa besok? Morgan kan?” tanya Rangga.

“Morgan besok mau survey buat baksos jam 7 malem. Kayaknya dia gak ikut” jawab Maurine.

“Noh Dick! Lo sama Maurine aja” usul Rangga. Maurine pun tertawa dalam hati. Wajahnya memerah, sementara Dicky pun tidak memandang Maurine sedikitpun.

“Liat nanti aja” jawab Dicky.

**

#14 Februari 2013

      Pukul 19.00

“Lo gak ambil minum Dick?” tanya Rangga.

“Nanti aja” jawab Dicky yang berkemeja biru dan celaja jeans yang tengah duduk di tepi danau sekolah. Tiba-tiba semua mengalihkan perhatian ke seorang gadis yang sangat cantik, dan belum pernah dilihat semua warga sekolah lainnya.

“Wiiss, Dick! Cantik banget. Lo liat deh” kata Rangga antusias. Dicky tiodak menoleh sedikitpun.

“Tetep gue mau kak Shasie” jawab Dicky bersikeras.

“Ehh .. itu Maurine kan Dick? Iya kan?” tanya Rangga yang akhirnya bisa membuat Dicky menoleh ke gadis itu. Rambut terurai, dengan bando berhias pita kecil, bedak dan lip glos tipis membuat Maurine nampak anggun. Ditambah dress biru muda yang sangat cocok dengan kemeja Dicky. Dicky kali ini merasa berbeda. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup cepat. Dan ia segera menghampiri Maurine.

“Rin lo cantik banget” kata Dicky. Maurine pun tersenyum malu, pipinya kembali memerah.

“Rin lo mau gak jadi pasangan gue?” tanya Dicky. Maurine mengangguk dengan cepat.

            Acara inti pun di mulai. Mereka berdansa bersama. Tak lama maurine pun di nobatkan sebagai Queen of Queen, sedangkan King of King adalah siswa dari kelas XII-C.

“Lo hebat Rin” kata dicky.

“Thank’s Dick” jawab Maurine singkat. Mereka menyingkir dari peramaian, tepatnya di depan danau dimana Shasie dan Maurine membicarakan Dicky saat itu. Sementara Rangga, masih sibuk dengan naura.

“Dick, lo cinta sama Shasie?” tanya Maurine tiba-tiba.

“Cinta? Gue gak tau Rin” jawab dicky.

“Malah, gue piker gue cintanya sama orang lain Rin” lanjut Dicky.

“Siapa?” tanya Maurine sedikit kecewa, karna saingannya bertambah.

“Gue cintanya sama elo, rin” lanjut Dicky. Maurine tersentak, mata mereka bertemu. Ingin rasanya Maurine melompat riang tapi, itu tidak mungkin. Dicky memeluk maurine.

“Rin gue baru sadar! Lo itu yang ada di hati gue” kata Dicky.

“Lo mau gak jadi cewe gue?” tanya Dicky.

“Mau Dick” jawab maurine di iringi air mata. Moment itu, tiba-tiba berubah karena Rafael datang.
“Dick ayo ikut gue, lo juga Rin!” kata Rafael panic. Mereka pun menuju tempat yang dituju oleh Rafael yaitu rumah sakit.


Rumah Sakit ….


 “Gue nitip Maurine, ya Dick” ucap Shasie yang sedang terbaring lemah dengan alat bantu detak jantung dan berbagai kabel menempel di tubuhnya.

“Sebenernya, lo sakit apa sih kak?” tanya Dicky yang menangis.

“Aku punya Kangker otak Dick, a … aa .. aku harap kamu bisa lupain aku” kata Shasie yang sudah sulit untuk berbicara.

“kak .. kakak jangan bilang gitu. Kaka tetep idola aku!” rintih dicky.

“Ng .. ng .. nggak Dick! Maurine pentes jadi cewe kamu. Dan .. kalau aja kamu tau, a .. aku CINTA SAMA KAMU” kata Shasie. Tiba-tiba alat pendeteksi jantung pun berhenti begitu juga nyawa Shasie yang telah pergi. Hanya 1 carik kertas yang di simpan Dicky, itu kenang-kenangan dari Shasie. Di amplopnya tertulis.


“Di Buka Kalau Kamu Sudah Mencintai Maurine Apa Adanya”.

Makna Valentine :
Dalam surat iru, terselip makna Valentine.
Isi surat itu :
“Untuk Dicky, lelaki berhati selembut salju ..
Dicky aku yakin! Saat kamu baca ini, kamu dan aku sudah di alam berbeda ..
Aku hanya ingin mengucapkan 1 kalimat yang belum sempat aku katakana ..
“VALENTINE adalah hari kasih sayang dann HARI KASIH SAYANG adalah hari dimana kita membuktikan kasih sayang kita pada orang yang kita cinta. Dan orang yang kita cinta, bukanlah memandang dari kesempurnaan. Tapi, dengan cara menghargai dan memahami kekurangan paangan kita ..
Pesan aku, 1) jangan kamu benci Fabian. Dia memang bersikap keras karena dia tau, aku harus dijaga olehnya. Karena aku tidak akan bisa bertahan menahan kangker-ku.
2) Sayangi Maurine, seperti kamu menyayangi aku, dan pahami kekurangan Maurine.

Terima kasih dicky …
*Shasie Meyli Shandara
Yang mencintaimu sedalam hati”




~The End~